Kesehatan

Selamatkan Tulang Anda

  • CobaDulu– Deteksi Dini Osteoporosis dengan Penanda Biokimiawi Tulang

Tulang adalah penyangga bagi tubuh, bertugas menyangga tubuh agar tetap berdiri tegak dan kokoh. Bayangkan bila penyangga tubuh kita itu keropos? Bagai batang pohon yang digerogoti rayap, lambat laun akan tumbang begitu saja, tulang yang keropos akan rapuh dan lebih rentan untuk patah.

 

Hal ini tak hanya menimbulkan rasa nyeri, tapi juga akan menurunkan kualitas hidup seseorang hingga harus bergantung pada orang lain. Lebih buruk lagi, osteoporosis dapat menyebabkan kematian serta membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui risiko osteoporosis sedini mungkin.

OSTEOPOROSIS, KETIDAKSEIMBANGAN PROSES REMODELLING TULANG

Menurut badan kesehatan dunia WHO, osteoporosis atau tulang keropos adalah suatu kondisi penurunanan densitas (kepadatan) tulang, kerusakan arsitektur tulang dan meluasnya kerapuhan tulang. Akibatnya, kekuatan tulang akan menurun dan risiko patah tulang meningkat. Osteoporosis terhadi karena adanya ketidakseimbangan pada proses remodeling tulang, yakni resorpsi/penyerapan tulang lebih besar dari pembentukan.

 

Pada kondisi ini, pembongkaran tulang meningkat dan menyebabkan perubahan massa, struktur dan kekuatan tulang hingga tulang menjadi rapuh dan rentan untuk patah.

Beberapa individu yang berisiko mengalami osteoporosis, di antaranya :

wanita post menopause
berusia 65 tahun atau lebih
adanya riwayat keluarga yang mengalami tulang patah/retak
mengalami tulang patah/retak dan luka berat setelah 40 tahun
penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang (selama 3 bulan berturut-turut atau lebih)
terlalu kurus atau berat badan rendah
kurang asupan kalsium dan vitamin D
aktivitas kurang atau berlebihan
menopause awal/dini
memiliki penyakit lain, seperti gagal ginjal, dialysis/cuci darah, hipotiroid, malabsorbsi
Osteoporosis, The Silent Disease

 

Osteoporosis seringkali disebut sebagai silent disease karena proses hilangnya massa tulang berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan tanpa disertai adanya gejala. Gejala-gejala yang timbul seperti patah tulang, tulang punggung yang semakin membungkuk, berkurangnya tinggi badan serta nyeri punggung seringkali timbul pada tahap osteoporosis lanjut, atau kondisi-kondisi tersebut lebih banyak diabaikan karena dianggap merupakan proses alami penuaan. Padahal bila kondisi ini dibiarkan saja, dapat menjadi penderitaan sepanjang hayat yang pasti tidak diinginkan oleh setiap orang. Oleh sebab itu waspadai osteoporosis sejak dini, apalagi bila Anda termasuk dalam individu yang berisiko, yaitu salah satunya dengan melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi tulang.

DETEKSI DINI DENGAN PENANDA BIOKIMIAWI TULANG

Saat ini terdapat 2 cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi tulang, yaitu bone mineral density (BMD) dan penanda biokimiawi tulang. Meski secara prinsip berbeda, namun kedua pemeriksaan ini bersifat saling melengkapi satu sama lain dan diperlukan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan jelas mengenai status tulang.

BONE MINERAL DENSITY (BMD)

Suatu pemeriksaan yang mengukur densitas/kepadatan mineral (contohnya kalsium) dalam tulang dengan sinar X khusus, CT-scan atau ultrasonografi. Hasil pemeriksaan dapat memberikan informasi yang menunjukkan kepadatan tulang saat pemeriksaan dilakukan. Sayangnya, pemeriksaan BMD tidak mampu memprediksi densitas tulang pada masa yang akan datang.

PENANDA BIOKIMIAWI TULANG

Adalah pemeriksaan laboratorium yang menggunakan sampel darah. Pemeriksaan ini mampu menilai aktivitas pembentukan dan pembongkaran tulang, serta keseimbangan antara kedua aktivitas tersebut. Bila aktivitas penyerapan atau pembongkaran tulang lebih besar dibandingkan dengan aktivitas pembentukan tulang, maka kepadatan tulang akan cepatberkurang atau berisiko mengalami osteoporosis di kemudian hari.

Pemeriksaan penanda biokimiawi tulang ini terdiri dari: N-MID Osteocalcin dan C-Tx (C-Telopeptide). N-MID Osteocalcin adalah salah satu bagian osteocalcin, yakni protein yang diproduksi oleh osteoblast. Osteoblast merupakan sel yang berperan dalam pembentukan tulang. Karenanya, kadar N-MID Osteocalcin dapat menilai aktivitas osteoblast dalam pembentukan tulang. Sementara, pemeriksaan C-Tx (C-Telopeptide) bermanfaat untuk menilai resorpsi/pembongkaran tulang.

Selain untuk deteksi dini osteoporosis, pemeriksaan penanda biokimiawi tulang juga diperlukan untuk :

pengukuran keseimbangan pembongkaran tulang pada pria dan wanita usia di atas 40 tahun, karena kehilangan tulang dimulai pada usia sekitar 40 tahun, karena kehilangan tulang dimulai pada usia sekitar 40 tahun
pengukuran sebelum dilakukannya terapi antiresorpsi oral, dan
pengukuran pada 3 bulan setelah terapi antiresorpsi oral guna mengetahui efikasi terapi dan melihat apakah terapi yang diberikan sudah tepat atau belum.
Jika hasil pemeriksaan penanda biokimiawi tulang menunjukkan risiko osteoporosis Anda tinggi, konsultasikan hal tersebut dengan dokter keluarga Anda. Bila perlu, dokter akan meminta Anda melakukan pemeriksaan lanjutan misalnya dengan pemeriksaan BMD untuk menentukan tingkat kepadatan dan kondisi tulang serta memastikan ada tidaknya osteoporosis.

Karena risiko tulang patah/retak, sebagai dampak osteoporosis, ternyata tidak selalu berhubungan langsung dengan penurunan nilai BMD, maka untuk diagnose lebih baik dibutuhkan kombinasi antara pemeriksaan BMD dan pemeriksaan penanda biokimiawi tulang.

 

Seperti halnya rayap yang bisa dicegah atau dibasmi dengan anti-rayap,  pun dapat dicegah atau dibasmi dengan anti-rayap, osteoporosis pun dapat dicegah di antaranya dengan mengenali factor risiko secara dini, mengubah gaya hidup (olahraga teratur dan nutrisi seimbang dan deteksi dini dengan pemeriksaan status tulang.

 

Postingan Terkait

Leave a Comment