Kesehatan

Leukemia pada Anak BISA disembuhkan

CobaDulu-Novi ( 8 tahun) dengan ditemani ibunya sedang asik membaca buku diruang bermainyang terletak di lantai dua Gedung Perawatan Terpadu Kanker Anak Estela RSUP Dr. Sardjito. Dia sedang menjalani pengobatan leukemia atau yang dikenal sebagai kanker darah. Sejak lima bulan yang lalu dia diketahui menderita leukimia limfoblastik akut (LIA)

“Pada awalnya hanya badan dan agak pucat. Setelah dibawa ke dokter dan diberi obat, panasnya turun. Namunketika hari pertama masuk sekolah, dia ikut olahraga dan sore harinya panas lagi badannya. Dia saya bawa lagi ke dokter dan disuruh periksa darah di RSUP Magelang. Dari hasil pemeriksaan darah, anak saya dirujuk ke RSUP Dr Sardjito dan dinyatakan menderita leukimia,” ungkap Ibu Novi.

Menurut Staf Medik Sub Bagian Hematologi-Onkologi SMF Ilmi Kesehatan Anak RSUP Dr Sardjito/Fakultas Kedokteran UGM, Dr dr Sri Mulatsih, SpA(K), leukimia atau sering disebut kanker darah putih (leukosit) yang tumbuh berlebihan, tidak bisa terkendali dan yang tumbuh berlebihan tersebut merupakan sel muda yang menyebar kemana-mana, sedangkan sel leukosit yang tua jumlahnya rendah, sehingga jumlah leukosit asli yang tua rendah.

Leukosit terdiri dari: Leukimia Akut dan Leukimia Kronik. Leukimia Akut dibagi menjadi 2 macam yaitu LLA (Leukimia Limfoblastik Akut) dan LMA (Leukimia Myeloblastik Akut. LLA adalah satu penyakit keganasan sumsum tulang dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal didalam sumsum tulang. Sedangkan LMA adalah suatu penyakit keganasan sumsum tulang yang mempunyai tanda khas berupa gangguandiferensiasi sel-sel mieloid. Sel-sel leukimia ini diblokade pada tahap maturasi menjadi bentuk yang bervariasi.

Leukimia limfoblastik akut (LLA) merupakan keganasan (kanker) anaka yang paling banyak diantara seluruh kasus kanker anak, termasuk di Indonesia, kata dr. Mulatsih yang juga kepala sub bagian Pendidikan Penelitian khusus Medik, Bagian Pendidikan Penelitian RSUP Dr Sardjito.

Penyebab leukimia belum diketahui secara pasti, karena itu tidak ada pencegahannya. Namun ada beberapa faktor tertentu yang diperkirakan sebagai pencetus terjadinya leukimia, baik berupa faktor dari dalam tubuh (intrinsik) seperti kelainan kromoson dan daya tahan tubuh yang rendah (defisiensi imun) misalnya pada anak dengan Sindrom Down, maupun berupa faktor dari luar (ekstrinsik) misalnya akibat sinar radioaktiof, beberapa bahan kimia dan virus.

Gejala/Tanda-tanda : Pucat, demam, pendarahan, nyeri tulang dan pembesaran perut.

  • Pucat merupakan gejala yang sering terjadi ” Karena Leukimia di Sumsum tulang masalahnya, Akibatnya ya penyebarannya kel yang lain seperti ke trombosit sehingga terjadi pendarahan, ke sel darah merah produksinya menjadi kurang dan akibatnya haemoglobinnya turun sehingga menyebabkan pucat” jelas dr. Mulatsih.
  • Anak sering menderita infeksi berulang akibat sel darah putih normal berkurang.
  • Infeksi umumnya disertai demam yang tidak mudah reda walaupun telah diobati, misalnya pilek, batuk atau diare.
  • Timbul bintik-bintik pendarahan dikulit atau memar, pendarahan gusi maupun mimisan walaupun telah diobati. Hal ini disebabkan berkurangnya jumlah trombosit (trombositopenia)

Akibat Penyusupan (infiltrasi) sel-sel leukemia ke dalam organ tubuh lainya dapat menimbulkan antara lain:

  • Pembesaran kelenjar getah bening yang biasanya berupa benjolan di kedua sisi leher, di ketiak dan atau di daerah lipatan paha.
  • Pembesaran perut ( akibat dari pembengkakan hati dan limpa)
  • Nyeri tulang akibat penyebaran sel leukemia ke tulang rasanya nyeri sampai kadang-kadang seperti lumpuh kakinya.
  • Gangguan pada susunan saraf pusat seperti nyeri kepala, rasa mual atau muntah, kejang dan kesadaran menurun.

Diagnosa :

Untuk memastikan diagnosis pemeriksaan bahwa seseorang menderita leukemia diperlukan pemeriksaan darah di laboratorium klinik. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan sumsum tulang di rumah sakit.

Dari hasil pemeriksaan darah di dapat gambaran antara lain:

  • Jumlah sel darah merah berkurang atau kadar haemoglobin menurun (anemia).
  • Jumlah sel darah putih meningkat (leukosistas) atau normal.
  • Jumlah trombosit berkurang (trombosipenia).

Ditemukan sel leukemia yaitu sel darah putih muda abnormal (sel Blast) dalam jumlah yang bervariasi.

Dari hasil pemeriksaan sumsum tulang ditemukan sel-sel darah putih abnormal (sel Kanker) yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada sel-sel darah normal.Leukimia tidak ada stadiumnya, sehingga tidak bisa dicegah,tetapi bisa dideteksi secara dini.

Deteksi Dini

Karena paling banyak gejala awalnya pucat, panas tidak sembuh-sembuh,ada perdarahan, sehingga ada tiga gejala tersebut dalam beberapa minggu tidak sembuh-sembuh dan bahkan disertai dengan lumpuh,maka harus segera cek darah rutin yang utama. Bila dari hasil pemeriksaan laboratorium memang mengarah pada leukemia, maka harus dilakukan pemeriksaan sumsum tulang.

Setelah pasien diambil sumsum tulangnya dan ditemukan bahwa anak menderita leukemia. Maka orang tua/ keluarga pasien depertemukan dengan tim yang akan menangani pasien leukemia. Tim ini terdiri dari dokter, perawat, relawan, ahli gizi dan psikolog. Dalam pertemuan ini tim memberikan pemahaman kepada orangtua tentang apa itu leukemia,bagaimana kemungkinan tingkat penyembuhan.

“Kalau memang kemungkinan prognosisnya jelek, maka kami sampaikan secara jujur dan tidak pernah ada yang kami tutupi. Apabila ada penolakan dari orangtua, kami biarkan orangtua tersebut sampai dia betul-betul paham dan tidak adanya penolakan,” jelas dr. Mulatsih.

Pengobatan:

Untuk pengobatan leukemia digunakan protokol 2006 yang digunakan seluruh dokter di Indonesia yang selalu di upgrade dan sudah disahkan oleh Ikatan Dokter Indonesia.

Untuk penderita leukemia yang beratnya angka leukositnya di atas 50.000/ul selain menggunakan protocol 2006, ada tambahan obat.

Minimal pengobatan dua tahun, meskipun pasien merasa sembuh sebelum dua tahun. Dr. Mulatsih mengatakan “pasien leukemia anak yang menjalani pengobatan di RSUP Dr Sardjito, ada yang drop out (Do) yaitu antara 10-15 persen dari seluruh pasien leukemia yang menjalani terapi di rumah sakit tersebut.

Penyebab Do antara lain: dikarenakan kondisi buruk, kehabisan uang rumahnya jauh, dan sebagainya. Meskipun demikian, tidak sedikitpun pasien leukemia terutama LLA yang sudah sembuh, Bahkan sekarang sudah ada yang mempunyai anak, ada mahasiswa dan ada juga yang sudah sarjana dari Fakultas Hukum UGM, dan sebagainya.”

Keberhasilan pengobatan di dsamping itu juga suportig care-nya, Karena 25 persen pasien di Negara berkembang gagal pengobatan karena infeksi dan daya tahan tubuh rendah Sehingga infeksi merupakan penyebab terbanyak kematian pada pasien leukemia.

“Kalau kita berani pengobatan progresif maka pendukungnya harus kuat. Seperti halnya tempat perawatan pasien leukemia harus dibuat sangat protektif. Karena itu bangsal untuk penderita kanker anak di RSUP Dr. Sardjito dibuat sangat protektif,” ungkapnya.

Prognosis (harapan untuk sembuh)

Tergantung antara lain: gambaran klinis dan laboratorium termasuk jumlah angka leukemia saat diagnosis, respon awal terapi, serta usia saat didiagnosis.

harapan untuk sembuh dari leukimia hasil penelitian dr. mulatsih menujukan secara klinis ada kencendrungan mengalami kematian atau relaps lebih tinggi dibandingkan kelompok usia satu tahun sampai Sembilan tahun. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa usia saat diagnosis merupakan faktor prognosis yang bermakna (trueworthy,1992). Anak dengan usia satu sampai sembilan tahun memiliki disease free survival lebih baik di bandingakan anak lebih tua atau bayi muda

Postingan Terkait

Leave a Comment