TipsMotifasi

Genggamlah Dunia

Orang bijak berkata : membiasakan anak membaca sejak dini akan menjauhinya dari kebodohan, dan kebodohan adalah … ‘freepass’ menuju kemiskinan.

“Pa, itu mercusuar yah? Itu tempat lampu besar dinyalakan untuk menerangi para pelaut kan?” tanya Dinda polos saat kami sekeluarga melintas di area pesisir pantai Jawa Tengah dalam perjalanan mudik menjelang Lebaran. Dengan terkejut saya bertanya kepada anak semata wayang kami yang berusia 4 tahun darimana Ia mengetahui bagunan bernama mercusuar tersebut. “Dinda membacanya di komik Donal Bebek, pa,” jawabnya bangga.

Dari ilustrasi sederhana di atas, kebiasaan membaca sejak dini ternyata dapat mengajarkan dan mengenalkan hal-hal baru kepada anak, bahkan memperingan tugas Anda untuk mengajarkan segala hal baru terhadap anak. Ya, Edi memang mengajarkan anaknya, Dinda, untuk mencintai buku sejak usia 2 tahun. Diawali dengan buku bergambar, perkembangan otak kreatif Dinda mampu membuatnya menyerap secara cepat baik gambar, benda-benda yang baru dia lihat, atau pun belajar mengerti rangkaian cerita sederhana.

Jika Anda ingin junior Anda juga sepintar Anda dalam hal menambah ilmu pengetahuan, wawasan, dan pengalaman, mengapa tidak Anda dorong mereka agar gemar membaca sejak dini?

Gerbang Dunia Baru

Memang, tidak sedikit orang yang merasa bahwa aktivitas membaca itu kurang menarik dan menjemukan. Mereka mungkin lebih memilih aktivitas ngobrol ngalor ngidul dengan teman, bercanda, nonton tivi, dan sebagainya. Celakanya, kebiasaan ini dapat menurun kepada anak-anak mereka dan berakibat para calon penerus bangsa ini menjadi melempem dan kurang memiliki wawasan yang luas.

Menurut Fitriani, F.S., Msi. Psi, Ketua Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia untuk wilayah DKI dan sekitarnya, membaca merupakan cara terbaik untuk belajar dan menjawab rasa ingin tahu yang besar dari putra-putri Anda. Ketika para orangtua membantu anak-anaknya belajar membaca, berarti mereka telah membantu membuka pintu gerbang menuju dunia baru bagi anak-anaknya. Membantu anak-anak Anda mencari yang mereka butuhkan untuk bekal menuju sukses dalam hidupnya kelak.

Dengan bantuan Anda, anak bisa memulai hubungan abadi dengan buku, sehingga mereka berkembang menjadi pribadi yang suka membaca. Pengetahuan adalah kekuatan, dan buku penuh dengan itu. Melalui buku, selain sebagai hiburan dan mengisi waktu luang, wawasan anak juga makin diperkaya. Buku adalah jendela dunia, bukan?

Lupakan Drilling

Tingkat perkembangan anak yang paling baik untuk mengembangkan minat baca adalah pada masa peka, yaitu sekitar usia 5 sampai 6 tahun. Kemudian minat membaca ini akan berkembang seterusnya, yaitu sampai usia remaja. Dalam suatu kasus, Fitri menyayangkan tindakan banyak orangtua yang terlalu dini mengenalkan buku bacaan kepada anaknya. Buntutnya adalah membuat anak menjadi malas membaca.

“Ini sering terjadi di TK-TK ambisius yang ingin anak-anak lulusannya masuk ke sekolah favorit,” ujar Fitri. “Mereka akhirnya menggunakan metode drilling, anak digenjot habis-habisan setiap hari tanpa menghiraukan bahwa minat membaca anak sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari dalam diri anak itu sendiri (usia, jenis kelamin, intelegensi, kemampuan membaca, sikap, dan kebutuhan psikologis) maupun faktor luar (status sosial ekonomi orangtua, pengaruh orangtua, guru, dan teman sebaya).”

“Jika kondisinya seperti ini, walaupun anak bisa membaca, tapi mereka menjadi tidak semangat karena tidak menemukan sisi nikmatnya membaca. Akhirnya, membaca hanyalah sebagai target, bukan aktivitas yang menarik. Parahnya lagi, kelak anak akan lebih memilih menghindari membaca,” jelas Fitri.

Tumbuhkan minat baca tanpa paksaan terhadap anak, naluri bermain yang tinggi membuat anak-anak cepat bosan dengan rutinitas membaca yang membosankan atau dipaksakan.

Tanya Lagi

Membacakan buku dengan suara keras kepada anak ternyata dapat merangsang imajinasi sekaligus mengembangkan pemahaman mereka tentang dunianya. Cara ini dapat membantu mereka mengembangkan keterampulan mendengar dan berbahasa, juga mempersiapkan mereka untuk memahami kata-kata tertulis. Ketika irama dan melodi dari bahasa menjadi bagian dari kehidupan anak, belajar membaca akan menjadi sealamiah belajar berjalan dan berbicara.

Di dalam buku Helping Your Child Learn To Read (With Activities for Children from Infancy Through Age 10) sang penulis, Bernice Cullinan dan Brod Bagert mengatakan bahwa anak-anak belajar menyukai suara bahasa sebelum mereka bisa memahami kata yang tercetak di dalam buku. Sesekali, cobalah diskusikan cerita yang Anda baca, tetapi tidak perlu memaksa untuk mendiskusikan setiap buku yang Anda bacakan.

Cerita yang menarik biasanya menimbulkan kecintaan pada anak untuk selalu membaca, dengan atau tanpa perbincangan. Terkadang anak perlu waktu untuk berpikir tentang cerita yang telah mereka baca. Dan jangan kaget jika anak Anda menyebutkan sesuatu hal baru yang berasal dari cerita yang pernah Ia baca. Seperti Dinda saat membicarakan mercusuar di atas.

Berbincang dengan anak tentang apa yang Anda berdua baca merupakan cara lain yang dapat membantu anak mengembangkan keterampilan berbahasa dan berpikir. Anda tidak perlu merencanakan setiap perbincangan, mendiskusikan setiap cerita, atau bahkan mengharapkan jawaban. Bacalah secara perlahan dan berhentilah sesekali untuk berpikir bersamanya tentang cerita tersebut. Anda bisa memberikan rangsangan terhadap daya tangkapnya: “Kira-kira apa ya…yang terjadi berikutnya?” atau beri pertanyaan : “Kamu ingat tidak, apa nama Istana tersebut?”

Jawablah pertanyaan anak Anda, dan jika menurut Anda mereka mulai tidak mengerti akan sesuatu, berhentilah membaca dan tanyakan. Jangan khawatir akan merusak alur cerita, yangterpenting anak Anda memahami apa yang telah Ia baca bersama Anda.

Sesuaikan Buku

Jenis bahan bacaan juga memegang peranan penting agar anak mau membaca. Lagi-lagi, usia anak perlu dijadikan pertimbangan utama.

Usia 2 sampai 6 tahun
Anak menyukai buku bacaan yang didominasi oleh gambar-gambar nyata

Usia 7 tahun
Anak menyukai buku yang didominasi gambar ditambah bentuk tulisan yang besar-besar, kata-kata yang sederhana dan mudah dibaca. Biasanya pada usia ini anak sudah mulai memiliki kemampuan membaca dan mulai aktif untuk membaca setiap suku kata

Usia 8 sampai 9 tahun
Anak menyukai buku bacaan dengan komposisi gambar dan tulisan yang seimbang. Mereka biasanya sudah lancar membaca walaupun pemahaman mereka masih terbatas pada kalimat singkat dan sederhana.

Usia 10 sampai 12 tahun
Anak mulai menyukai buku dengan komposisi tulisan yang lebih banyak daripada gambar. Pada usia ini kemampuan berpikir abstrak dalam diri anak mulai berkembang sehingga mereka dapat menemukan intisari dari buku yang dibaca dan mampu menceritakan isinya kembali kepada orang lain.

Utami Munandar, pakar kreativitas Indonesia, di dalam bukunya Minat Baca dan Perkembangan Anak mengatakan bahwa ada perbedaan minat anak terhadap isi bacaan ditinjau dari perkembangan usia kronologis anak.

Pada usia 3 sampai 8 tahun anak menyukai buku cerita yang berisi tentang kehidupan binatang dan orang-orang di sekitar anak. Pada masa ini anak bersikap egosentrik sehingga mereka menyukai isi cerita yang berpusat pada kehidupan di seputar dirinya. Mereka juga menyukai cerita khayal dan dongeng. Sedangkan pada usia 8 sampai 12 tahun anak menyukai isi cerita yang lebih realistis.

Munandar juga menemukan ada perbedaan umum antara minat baca anak laki-laki dan perempuan dalam sifat dan tema cerita, walaupun perbedaan ini tidak bersifat mutlak, artinya anak perempuan juga menikmati bacaan anak laki-laki dan sebaliknya. Tapi pada umumnya, anak-anak perempuan menyukai buku cerita dengan tema kehidupan keluarga dan sekolah. Sedangkan anak laki-laki lebih menyukai buku cerita petualangan, kisah perjalanan yang seram dan penuh ketegangan, cerita kepahlawanan, dan cerita humor.

Selain pedoman di atas, masih ada beberapa faktor lain yang penting untuk Anda perhatikan ketika mencari buku untuk anak Anda, yaitu :

Utamakan buku yang paling Anda berdua sukai. Ini penting untuk menajamkan kecintaan anak Anda terhadap dunia baca. Tanyakan teman atau guru di sekolah anak tentang buku favorit mereka
Kunjungi perpustakaan terdekat (jika memang ada) dan daftarkan anak menjadi member tetap. Mintalah petugas perpustakaan untuk membantu memilihkan buku
Cari buku yang telah memenangkan penghargaan tertentu. Rajinlah membaca resensi buku yang direkomendasikan di surat kabar atau majalah. Begitu anak sudah cukup dewasa biarkan Ia mencari buku yang Ia minati bersama Anda.
Jika Anda dan anak Anda menganggap sebuah buku tidak menarik lagi, singkirkan buku tersebut dan cari buku lainnya
Ubah Kebiasaan Anda

Minat membaca pada anak tidak akan terbentuk dengan sendirinya. Itu sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan terutama keluarga. Anda sebagai orangtua menjadi tokoh utama dalam menanamkan kegemaran membaca, baru setelah itu guru di sekolah, teman sebaya, dan lingkungan. Tidak ada tawar-menawar, sesibuk apapun Anda mengejar karir, usahakanlah untuk bisa sesering mungkin membaca bersama anak. Buat jadwal membaca misalnya sekali dalam sehari bersama anak. Misalnya malam hari ketika anak hendak tidur. Jika biasanya Anda mendongengi anak secara verbal sebelum tidur, mulai sekarang ubah cara Anda dengan membacakan sebuah buku cerita kesukaannya. Dengan cara itu anak akan melihat Anda membaca juga akan mendengarkan apa yang Anda baca.

Awalnya mereka bukan tertarik pada isi cerita, tetapi pada kenikmatan yang diperoleh saat berdekatan dengan orangtuanya. Ketika duduk di pangkuan orangtua dan anak merasakan kasih sayang. Suasana yang menyenangkan ini akan membuat cerita dengan gambar-gambar terlihat lebih indah dan membuat anak nyaman sehingga semangat menikmati bacaan. Kenyamanan ini akan merangsang anak untuk membaca sendiri jika Ia sudah bisa membaca.

Anda pun sebaliknya menyisihkan lebih banyak waktu dan frekuensi membaca. Jika selama ini hanya di kamar saat beranjak tidur, ubah kebiasaan Anda dengan membaca di waktu yang lebih sore dan di ruang keluarga, sehingga anak dapat melihat dan merangsang minat membacanya.

Biasanya anak akan meniru gaya dan tingkah laku orangtuanya, termasuk dalam hal aktivitas membaca. Setelah anak mampu membaca sendiri, Ia akan senang dan bangga mempraktekkan kemampuan membacanya di depan Anda. Berikan Ia pujian dan simak apa yang dibacanya, dengan begitu Anda telah memuliai rantai belajar yang tak berbatas: Anda membaca untuk anak-anak, anak mulai cinta membaca, mulai ada keinginan anak untuk membacanya sendiri, mereka mulai membaca, dan akhirnya mereka membaca sendiri untuk kepentingan informasi atau hiburan.

Postingan Terkait

Leave a Comment